Tampilkan postingan dengan label Nilai Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nilai Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2012

Menghembuskan Nafas Terakhir Di Kuburan Temannya

Dhiya’ yang bertugas memandikan mayat di rumah sakit militer Riyadh telah bercerita kepadaku dan menurutku ia seorang yang dapat dipercaya. Hanya Allah-lah yang mengetahui hakikat sebenarnya dan aku tidak akan mendahului Allah dalam menilai seseorang itu suci atau tidak. Ia mengisahkan bahwa seorang personil angkatan laut meminta bantuanku untuk mengeluarkan akte kematian temannya yang meninggal.
Setelah akte tersebut kami keluarkan, kami memandikan mayat temannya bersama-sama. Kami berpisah pada jam 11.35 siang. Ia membawa jenazah temannya sementara aku bersiap-siap hendak melaksanakan shalat Zhuhur. Pada jam 1 siang, pihak rumah sakit menelponku, mereka katakan, “Di sini ada jenazah. Keluarganya ingin agar segera dishalatkan pada waktu Ashar. Segeralah kemari dan mandikan jenazah tersebut.”

Sabtu, 27 Oktober 2012

Tangisan orang tak punya

 Sudah menjadi kehendak Allah memberinya cobaan berupa penyakit kronis yang bersarang dan sudah bertahun-tahun ia rasakan. Ini adalah cerita kisah seorang gadis yang bernama Muha. Kisah ini diriwayatkan oleh zaman, diiringi dengan tangisan burung dan ratapan ranting pepohonan.

Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telah kami katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak merasakannya?

Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat.

Rabu, 24 Oktober 2012

Cinta yang tidak bisa bersatu


Sudah menjadi kehendak Allah memberinya cobaan berupa penyakit kronis yang bersarang dan sudah bertahun-tahun ia rasakan. Ini adalah cerita kisah seorang gadis yang bernama Muha. Kisah ini diriwayatkan oleh zaman, diiringi dengan tangisan burung dan ratapan ranting pepohonan.

Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telah kami katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak merasakannya? Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat.

Muha tumbuh besar seiring dengan penyakit yang dideritanya. Ia menjadi seorang remaja yang cantik dan mempunyai akhlak mulia serta taat beragama. Meski dalam kondisi sakit namun ia tetap berusaha untuk mendapatkan ilmu dan pelajaran dari mata air ilmu yang tak pernah habis. Walau terkadang bahkan sering penyakit kronisnya kambuh yang memaksanya berbaring di tempat tidur selama berhari-hari.