Dhiya’ yang bertugas memandikan mayat di rumah sakit militer Riyadh
telah bercerita kepadaku dan menurutku ia seorang yang dapat dipercaya.
Hanya Allah-lah yang mengetahui hakikat sebenarnya dan aku tidak akan
mendahului Allah dalam menilai seseorang itu suci atau tidak. Ia
mengisahkan bahwa seorang personil angkatan laut meminta bantuanku untuk
mengeluarkan akte kematian temannya yang meninggal.
Setelah akte tersebut kami keluarkan, kami memandikan mayat temannya
bersama-sama. Kami berpisah pada jam 11.35 siang. Ia membawa jenazah
temannya sementara aku bersiap-siap hendak melaksanakan shalat Zhuhur.
Pada jam 1 siang, pihak rumah sakit menelponku, mereka katakan, “Di sini
ada jenazah. Keluarganya ingin agar segera dishalatkan pada waktu
Ashar. Segeralah kemari dan mandikan jenazah tersebut.”
My Facebook
Kategori
- Movie (3)
- Music (2)
- Nilai Kehidupan (11)
- Novel (3)
- Pantun (4)
- Pengetahuan (3)
- Puisi kehidupan (5)
- Puisi ungkapan hati (3)
- Sejarah (8)
- Syair (4)
- video (3)
Tampilkan postingan dengan label Nilai Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nilai Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Oktober 2012
Sabtu, 27 Oktober 2012
Tangisan orang tak punya
Sudah menjadi kehendak Allah memberinya cobaan berupa penyakit kronis
yang bersarang dan sudah bertahun-tahun ia rasakan. Ini adalah cerita
kisah seorang gadis yang bernama Muha. Kisah ini diriwayatkan oleh
zaman, diiringi dengan tangisan burung dan ratapan ranting pepohonan.
Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telah kami katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak merasakannya?
Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat.
Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telah kami katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak merasakannya?
Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat.
Rabu, 24 Oktober 2012
Cinta yang tidak bisa bersatu
Sudah
menjadi kehendak Allah memberinya cobaan berupa penyakit kronis yang
bersarang dan sudah bertahun-tahun ia rasakan. Ini adalah cerita kisah
seorang gadis yang bernama Muha. Kisah ini diriwayatkan oleh zaman,
diiringi dengan tangisan burung dan ratapan ranting pepohonan.
Muha
adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telah kami
katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia
kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti
burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak
merasakannya? Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat
menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia
tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat.
Muha
tumbuh besar seiring dengan penyakit yang dideritanya. Ia menjadi
seorang remaja yang cantik dan mempunyai akhlak mulia serta taat
beragama. Meski dalam kondisi sakit namun ia tetap berusaha untuk
mendapatkan ilmu dan pelajaran dari mata air ilmu yang tak pernah habis.
Walau terkadang bahkan sering penyakit kronisnya kambuh yang memaksanya
berbaring di tempat tidur selama berhari-hari.
Perubahan
Harusnya aku membantu bangkit mereka yang jatuhHarusnya aku curahkan kasih sayangku
Harusnya aku menjadi teman bagi yang kesepian
Harusnya aku menghentikan air mata - air mata yang mengalir
Keburukan yang kulakukan hari ini tak dapat kubatalkan
Namun aku masih punya kesempatan untuk BERSUJUD
Untuk meminta ampunan dariNYA
Ya Allah....!
Dengan rendah hati hamba bersyukur
Atas hari ini yang Kau karuniakan kepada hamba
Dengan segala pengharapan hamba pemohon ampunan
Atas segala dosa-dosa yang telah hamba perbuat
Atas semua kekecewaanMu
Kisah perjuangan seorang adik
Aku
dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi
hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka
menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih
muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana
semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima
puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu
ditangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun
mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua
layak dipukul!”Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!
Langganan:
Postingan (Atom)
- 28 Okt - 4 Nov (10)
- 21 Okt - 28 Okt (40)
posting populer
-
Mungil, manis, jadi ketua OSIS, tapi judesnya minta ampun. Itulah Bia, cewek kelas 3 SMA Constantine. Banyak cowok naksir Bia, tapi Bia me...
-
Anak ayam belajar berkokok Meniru suara ayam jantan Anak kecil jangan merokok Kalau merokok pasti penyakitan Dari Seram ke Pulau Buru ...
-
aku menunduk saat tuan senja menatapku rupanya siang akan terganti malam rindu di hati belum sepenuhnya terobati aku selalu berharap ...


»