Sabtu, 27 Oktober 2012

Setelah kau menikahiku

Puspita tak percaya pada lembaga pernikahan, namun tantangan Idan untuk
membuktikannya tak bisa ditolak. Maka mereka pun melakukan simulasi
pernikahan.
ku sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa orang harus menikah,” gerutuku.
Idan tertawa. “Ibumu menanyakan calonmu lagi?” Aku mengangguk cemberut.
“Apa jawaban mu kali ini?” godanya.
“Aku tidak menjawab. Aku langsung meninggalkan ruang makan dan masuk ke
kamar.”
Idan terbahak. “Kau kekanak-kanakan,” katanya.
“Habis jawaban apalagi yang mesti kuberikan, Dan? Aku sudah kehabisan
alasan, kehabisan stok bohong. Dan ibuku malah makin gencar menteror.”
Idan tersenyum. “Kau benar-benar seperti anak-anak. Kalau kau jadi
ibumu, apa kau tidak akan blingsatan kalau anakmu belum juga menikah
pada usia tiga puluh tiga.”
“Aku akan sangat gembira kalau anakku tidak menikah seumur hidupnya,”
komentarku.

Dan yang ingin membaca lebih lanjut ..silahkan  mendownloadnya...!!!!



Selamat membaca....!!!!!

Pacarku juniorku

Mungil, manis, jadi ketua OSIS, tapi judesnya minta ampun. Itulah Bia, cewek kelas 3 SMA Constantine. Banyak cowok naksir Bia, tapi Bia menganggapnya angin lalu.

Waktu acara MOS, Bia ketemu sama Egi, cowok kelas 1 yang rada tengil, tapi baik hati dan nggak gampang nyerah. Waktu mendapat hukuman disuruh nyanyi, Egi malah sengaja menggoda Bia, bikin Bia makin benci sama cowok itu.

Ternyata ada kebaikan hati di balik judesnya Bia. Ada ketulusan cinta di balik ketengilan Egi. Tapi kedekatan dua anak manusia itu terusik, karena sahabat Bia juga naksir Egi....


Untuk lebih lanjut silahkan download ebook-nya
 

 selamat membaca yaaaa...

Tangisan orang tak punya

 Sudah menjadi kehendak Allah memberinya cobaan berupa penyakit kronis yang bersarang dan sudah bertahun-tahun ia rasakan. Ini adalah cerita kisah seorang gadis yang bernama Muha. Kisah ini diriwayatkan oleh zaman, diiringi dengan tangisan burung dan ratapan ranting pepohonan.

Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telah kami katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak merasakannya?

Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat.